Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kebanyakan dari kita tidak pernah merasa terusik dengan kualitas air yang kita minum. Entah itu air yang keluar dari keran PAM, atau air dalam kemasan, atau air yang langsung diminum dari sumbernya, misal; air hujan, atau dari mata air. Secara kasat mata, air jernih memang menjadi patokan awal, apalagi ketika dirasakan, tidak ada yang berbeda dari rasanya, tidak ada aroma logam, tidak berbau lumpur, dan lain sebagainya. Intinya, kita banyak percaya dengan kemampuan indera perasa dan intuisi kita.

Air adalah kebutuhan mendasar tiap manusia. Kita paham sekali bahwa 70% badan kita mengandung air. Air yang tidak bersih atau kurang bersih sudah pasti akan mengganggu badan kita. Fakta yang cukup mencengangkan mengemukakan bahwa polusi air adalah penyebab penyakit dan kematian yang paling tinggi di dunia. Statistik mencatat sekitar 14.000 orang meninggal setiap hari akibat terpapar air yang tercemar, yang bisa diakibatkan dari konsumsi langsung atau tidak langsung. 

Polusi air banyak disebabkan aktivitas manusia, seperti membuang sampah sembarangan, buruknya penegakan hukum terhadap pembuat polusi. - (pic) oleh Aulia Rahman

Bagiamana polusi air memengaruhi kehidupan kita?

Polusi air dapat berupa kotoran solid yang tampak/dapat dirasakan oleh indera-indera manusia, atau tidak dapat dirasakan oleh indera-indera kita, yang terakhir ini yang patus diwaspadai. Polusi tersebut dapat memengaruhi tubuh kita secara langsung berupa penyakit atau keracunan. Dapat pula melalui vektor, atau penghubung. Misalnya ikan yang hidup di daerah tercemar akhirnya kita konsumsi. Racun yang terakumulasi di tubuh ikan akhirnya masuk ke dalam tubuh kita melalui siklus konsumsi rantai makanan. Akibatnya dapat langsung kita rasakan, atau nantinya memengaruhi generasi berikutnya, misalnya kontaminasi merkuri di ikan yang kita konsumsi akan memengaruhi janin yang dikandung seorang ibu. Bayi dapat lahir lumpuh, atau cacat.

Contoh tragedi besar kasus pencemaran air ini di Jepang yang berawal di tahun 1960-an menjadikan nama lokasi ini, Teluk Minamata di Jepang, menjadi sebutan sindrom penyakit tersebut sebagai "Minamata Disease" / Sindrom Minamata. Sindrom ini menyerang semua mahluk hidup yang terpapar cemaran tersebut, seperti manusia, kucing, anjing, dan hewan lainnya yang mengkonsumsi ikan/kerang yang tercemar.

Lalu bagaimana kita berupaya mengetahui kualitas air yang akan kita pakai dan konsumsi?. Tiga hal mendasar menjadi acuan intuitif seperti, melihat, membaui, dan merasakan ternyata tidak cukup. Karena pencemaran air sampai ke ukuran yang sangat mikroskopis. Pencemaran dapat dalam bentuk organik (bakteri, kuman, lumut, dan mahluk mikroskopis lainnya), serta anorganik, seperti logam, logam berat, mineral, serta unsur padat yang terlarut lainnya, biasanya ilmuwan dan akademis menggunakan istilah TDS (Total Dissolved Solid / Total zat padat terlarut) 

Siklus hidrologi dalam tahapan hujan adalah salah satu yang terpenting dalam memurnikan air - (pic) oleh Aulia Rahman

Cara tes sendiri

Tidak banyak yang bisa dijelaskan di sini. Tes sederhana seringkali tidak akurat, serta tidak banyak kebutuhan (demand). Konsumen akhir (end consumer) biasanya tidak membutuhkan karena percaya bahwa barang yang dibeli sudah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan otoritas tertentu seperti SNI (Standar Nasional Indonesia). Namun kalau dirasakan masih memerlukan, beberapa barang sebagai berikut dapat dibeli di pasaran:

  • Gawai tes air yang dijual di pasaran umum (dapat dibeli daring) berupa seperti pulpen. Didukung tenaga baterai, alat ini mengukur TDS di sampel air. Dengan skala ppm (part per million) yang bertingkat, alat tes ini dijual berkisar 50-150 ribu rupiah (saat artikel ini ditulis). Namun alat ini hanya mendeteksi zat padat terlarut, belum bisa mendeteksi kandungan organisme mikroskopis (e-coli, amuba, protozoa, dll).
  • Penggunaan kertas lakmus yang dapat dibeli di toko bahan kimia atau toko suplai laboratorium berfungsi untuk mendeteksi derajat keasaman air/zat cair. Air normalnya berkisar di derajat keasaman (pH) 6.5-7.
  • Ada banyak alat tes lainnya yang dapat dibeli di toko suplai laboratorium, seperti tes Nitrogen, tes Fosfat (fosfor), potassium. Standar baku mutu air lainnya yang ditetapkan oleh WHO dapat diunduh di sini: https://www.who.int/water_sanitation_health/dwq/gdwq0506.pdf


Tes laboratorium: akurat namun mahal.

Fungsi laboratorium memang komplit, akurat, dan menyeluruh untuk hampir semua jenis indikator polusi yang ingin diteliti. Biasanya semakin besar laboratorium, peralatan dan tenaga ahlinya semakin lengkap dan memadai. Berbagai macam jenis tes dapat dilakukan. Namun tentunya biayanya akan semakin tinggi. Tes seperti ini diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan air besar yang menyuplai banyak konsumen, serta di pabrik industri air dalam kemasan untuk memenuhi kriteria standar air minum yang tinggi. 

Salah satu cara menghasilkan air bersih layak minum - (pic) oleh Aulia Rahman

Baku mutu air minum memang sangat tinggi dan rumit, sejauh ini belum ada alat tes yang dapat dilakukan secara mandiri untuk mengetahui standar tersebut dengan akurat dan detail. Namun ada alat lain yang lebih terjangkau dan mudah didapatkan untuk menghasilkan air bersih layak minum sesuai standar. Ada beberapa penyedia filter air di pasaran yang dapat anda cari, mereka menjual beberapa jenis filter yang berbeda. Beberapa menghasilkan air bersih cukup untuk satu keluarga dalam satu malam untuk penggunaan yang lebih panjang, sementara yang lain untuk kebutuhan lebih personal. Pilihannya tergantung bagi kesadartahuan anda akan kebutuhan air bersih serta ketersediaan dana.

Penulis: Aulia Rahman

Penyunting: Aulia Rahman

Sumber: