​Setiap hari sebuah rumah tangga tidak lepas dari menghasilkan limbah cair rumah tangga. Aktivitas mandi, buang air kecil (BAK), buang air besar (BAB), cuci tangan, cuci baju, mencuci mobil, mencuci piring, dan lain sebagainya, pasti akan menghasilkan limbah. Beberapa jenis limbah tersebut akan masuk ke dalam bentuk sumur resapan, atau septic tank (kalau tersedia), namun biasanya sebagian besar lainnya akan masuk ke pipa pembuangan dan mengalir ke selokan depan rumah, sebelum nantinya akan menuju sungai yang lebih besar, yang lazimnya akan bermuara di sungai dan laut. Namun tiap kota seharusnya memiliki sistem buangan kota (sewerage system) yang membantu mengisolasi limbah dari proses mencemari lingkungan melalui resapan ke dalam tanah dan bercampur dengan air sungai.

Kenyataannya saat ini upaya pengurangan limbah yang disediakan oleh pemerintah hanya mencakup 3.5% dari total daerah layanan, sementara itu upaya pengolahan secara individual atau skala rumah tangga, serta semi-komunal, sangat tidak memadai, serta minim sekali. 

Berdasarkan jenisnya, limbah air rumah tangga dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu black water (air limbah toilet: BAB; BAK) serta gray water (air limbah non toilet: Mandi, cuci baju, cucian dapur, dan sebagainya). Tergantung dengan jumlah besaran penghuni rumah tangga, proses pengolahan limbah air juga berbeda. Berikut di bawah ini adalah beberapa ilustrasi dari skema IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) skala individu atau rumah tangga, sampai menengah.

Skema IPAL skala individu - (pic) oleh http://www.kelair.bppt.go.id

​IPAL memiliki fungsi dengan spektrum yang luas, dari persoalan kesehatan, lingkungan, sampai estetika. Berikut penjelasannya:

  1. IPAL membantu memitigasi persoalan gangguan kesehatan. Dengan adanya IPAL yang sesuai, bakteri dan kuman seperti E. Coli dapat dihindarkan dalam mencemari air bersih.
  2. IPAL juga memitigasi persoalan lingkungan yang lebih buruk. Dengan adanya IPAL, sumber-sumber air bersih dapat terjaga kualitasnya sebagai bahan baku pengolahan air bersih selanjutnya.
  3. Dari segi estetika dan keindahan, IPAL membantu mengisolasi bau, dan meminimalkan pemandangan tidak sedap. Banyak contoh IPAL yang dibangun sedemikian rupa dengan warna-warni serta mural, sehingga lebih memperindah suasana.
Skema IPAL skala individu yang menghasilkan banyak lemak - (pic) oleh http://www.kelair.bppt.go.id

Lalu bagaimana IPAL dilakukan di level individu atau komunal/berkelompok?. Tentunya semua berangkat dari kemauan dan kesadaran. Di level individu, tentunya akan menelan biaya untuk investasi dari pembuatan IPAL (septic tank, dll), serta penyediaan lahan. Untuk penduduk kota, nilai investasinya akan semakin tinggi seiring sempitnya lahan dan mahalnya material. Lalu apakah ada solusi lain?. Bisa saja, apabila ada pengorganisasian masyarakat yang memiliki kesadaran bersama, berkehendak untuk berinvestasi bersama mengelola IPAL secara komunal/berkelompok. Tentunya perjalanannya akan sedikit panjang, setidaknya harus ada persamaan persepsi akan kebutuhan dan kesadaran.

Langkah berikutnya ada berbagai macam survei teknis dan sosial, lalu ada institusionalisasi dari lembaga yang akan melanjutkan perawatan, mis: karang taruna setempat. Lalu yang tidak kalah penting, bagaimana iuran para pengguna, siapa yang akan mengelola dana, bagaimana laporan pertanggungjawabannya, bagaimana pemerintah juga menyokong moral, pengetahuan teknis, serta pendanaan, tentunya bukan perkara yang mudah seperti keputusan di level individu. 

Skema IPAL skala individu yang menghasilkan banyak lemak, dan untuk kapasitas 40 orang atau lebih - (pic) oleh http://www.kelair.bppt.go.id

 Kebutuhan air bersih tiap individu di Indonesia rata-rata sekitar 121 liter per hari untuk semua aktivitas yang terkait dengan air (mandi, makan, minum, cuci-cuci, dll), semuanya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sementara itu angka minimal berada di kisaran 70 liter per hari. Pemerintah Indonesia sendiri melalui PP No. 16 Tahun 2005 menyebutkan bahwa Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah menjamin hak setiap orang dalam mendapatkan air minum bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif. Kita berhak mendapatkan hak tersebut, namun kita tidak boleh lupa, bahwa dari setiap hak yang kita tuntut, akan dibatasi oleh kewajiban yang harus kita penuhi dalam menjaga lingkungan, sumber air bersih, dan turut membangun wilayah sekitar yang sehat dan produktif pula.

Penulis & penyunting: Aulia Rahman

Sumber-sumber: